Sunday, June 7, 2015

[BOHONG]

Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 6:49 AM 0 comments
Kalau kau bahagia,
Lantas, kenapa dada ini begitu sesak?
Kepala ini begitu penat?
Dan tenggorokan ini begitu tercekat?

Di bagian mana kau berbohong lagi,
Soal definisi bahagia?

Selamat Ulang Tahun

Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 6:47 AM 0 comments
Selamat Ulang Tahun, Penyendiri
Walaupun telat, ku harap kau menyukai hadiahku
Karena hadiahku adalah:
Secarik puisi
Di mana kau tidak lagi hidup sendiri
Di tempat kau disayangi dan diapresiasi
Hiduplah yang lama dan bahagia
Lalu sadarlah
Kau disayangi
Lalu suatu hari
Kau akan berhenti hidup sendiri

Dalam Kesenderian yang Terlalu Sendiri

Dewa Palsu II

Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 6:43 AM 0 comments
Ia adalah dewa palsu
Dan bersamaan dengan terungkap kepalsuannya
Matilah semua pemuja setianya
Di belakangnya bersorak para pengkhianat
Kufur yang membangkitkan dewa palsu
Pemuja sesungguhnya dari dewa yang tak sesungguhnya
Kufur peracau yang atheis
Ironi bahwa merekalah yang membangunkan dewa palsu

Pemuja begitu setia, kini mereka hanyalah onggokan
Dari apa yang tersisa ketika sang dewa menangkap doa mereka

Akankah dewa duduk terpaku menyesali hilangnya para pemuja?
Menyesali bahwa ia sempat mengaku dewa?
Menyesali bahwa ia sempat membiarkan dirinya dicintai semua?

Yang ku tahu, aku masih jatuh cinta pada sang dewa.
Karena, walaupun ia dewa palsu, ia melakukan tugasnya dengan baik.
Buktinya, tidak ada yang curiga bahwa ia palsu.

Bersamaan dengan pemuja lain, kami hanya bisa merutuki diri
Karena masih sama-sama mencinta kepada dewa palsu

[MATI RASA]

Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 6:34 AM 0 comments
Gadis itu mati karena tak bisa lagi mengartikan rasanya
Ia hidup dalam pikiran, bahwa semua tak sia-sia
Memang betul, ia bahagia. Setidaknya begitulah ia kira.
Maka seakan suntikan narkoba, di otaknya terpatri:
Bahwa ia bahagia,
Fakta selain itu hanyalah godaan setan.

Kalau begitu, mengapa ia menghabiskan harinya menangis?
Merintih, meratap, berteriak kepada dinding yang bahkan malas membalas?
Mengapa ia menengadah ke langit-langit sambil memohon:
Agar dirinya lebih bahagia dari sekarang?

Lalu gadis itu mati rasa, begitu saja!
Karena sampai sekarang tidak ada yang mengerti,
Bahwa sedihnya sudah ia pendam bertahun-tahun
Bahwa ia berpikir dirinya lebih bahagia dari yang ia kira
Bahwa tangis dan keluh kesahnya adalah nyata
Yang sebelumnya ia sembunyikan dibalik tawanya

Gadis itu mati rasa dan bersamanya mati pula jiwanya
Kepada langit dan bumi yang berada di antaranya gadis itu jatuh
Dan luruh dalam dekapan sang bumi
Yang menerima kesedihannya dan menguburkannya dalam-dalam
Tanpa pernah rasa itu beristirahat dalam tenang.

Thursday, June 4, 2015

Selamat Datang

Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 6:23 AM 0 comments
Selamat datang di kampungku!
Di sini kami menyeduh cinta, tawa, dan bahagia.
Campurannya mudah saja,
tinggal petik tiga daun di pucuk tertinggi pohon itu
Lalu dimana pohon itu berada?
Pohon itu dekat saja,
kau bisa melihatnya dari rumahku, sini! Kemari!
Kau lihat pohon rimbun itu?
Ya! Di bagian paling tinggi dari gunung itu!
Tiga daun di pucuk tertinggi pohon itu lah
yang melahirkan cinta, tawa, dan bahagia.
Bagaimana caranya kesana katamu?
Kau hanya perlu berjalan kaki, kok.
Toh, gunung itu sudah terlihat dari sini,
begitu pula pohonnya.
Apa? Jauh katamu? Tidak, kok!
Memangnya kau sudah pernah mencoba pergi kesana?
Kalau belum, lantas, tidak ada hakmu
untuk mengatakan gunung itu jauh bukan?
Kalau jauh, ia tidak akan terlihat dari sini, sayangku.
Maka cobalah, mungkin jika berlari akan lebih cepat,
Karena hanya di kampungku
dan hanya pohon itu yang bisa menyeduh
Cinta, tawa, dan bahagia.
Kalau sudah mendapatkannya, seduhlah,
lalu bawalah kembali ke kampung ini.
Bagilah dengan semua orang, semua harus dapat!
Tidak mungkin katamu? Sudahkah kau mencoba? Belum, kan?
Tidak ada yang tahu apa hasil dari perjuanganmu, kecuali Tuhan
Dan kau maupun orang lain tidak akan pernah tahu hasilnya
tanpa pernah mencoba.
Jadi, cobalah!
Kapan lagi kau bisa menyeduh cinta, tawa, dan bahagia?
Semuanya hanya karena
tiga daun di pucuk tertinggi pohon itu!
Semoga, kau tidak menyerah ditengah jalan
atau kembali tanpa tiga daun di pucuk tertinggi pohon itu.
Tuhan bersamamu selalu, sayangku!

[Merindu]

Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 5:38 AM 0 comments
Ah, enak sekali merindu
sambil terkantuk-kantuk
duduk di ayunan melayu
berbisik pada angin yang lalu.

Enak sekali merindu
sambil membayangkan wajahmu
mengingat sentuhanmu
akupun terkikik sendiri pada bayanganmu.

Namun begitu...
seandainya aku tidak hanya sekedar bisa merindu
aku ingin lari mencari dan menghampirimu
tapi, siapalah aku?

Kalaupun ku bilang rindu
kau hanya akan tertatawa sambil berkata
"rindu juga aku. Pada gadis itu yang datang dari negeri seberang"
 

Bitterness Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea