Saturday, May 10, 2014

Seribu Tahun

Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 1:40 AM 0 comments
Aku tidak mau hidup seribu tahun.
Aku tidak mau imun terhadap segala penyakit.
Aku tidak mau terjatuh dan tak merasa sakit.
Aku tidak mau diteriaki dan tidak tuli.
Aku tidak mau tinggal di rumah besar seratus lantai seribu pelayan sepuluh ribu keramik ratusan ribu kelap-kelip kolam renang luas berhektar-hektar padang rumput bermacam-macam mobil segala merk dengan brankas uang bawah tanah yang melebihi luas kota itu sendiri dan terisi tiap sudutnya.
Aku tidak mau.
Aku hanya mau mengedipkan mata dan melihat kau
Aku hanya mau menarik nafas dan kau hadir
Aku hanya ingin mengulurkan tangan lalu menggandengmu
Aku hanya ingin tertidur diselimuti kehangatanmu
Aku hanya ingin sesederhana membuka mulut menghembuskan nafas dan membisikkan betapa aku mencintaimu sambil bersandar dipundakmu dan merasakan kehangatanmu
Lalu kau akan berbisik balik dan mengatakan betapa kau juga merasakan hal yang sama. Hanya sesederhana itu yang kumau.
Aku hanya ingin merasakan mencintai dan dicintai
Aku hanya ingin semudah itu, Tuhan
Semudah dan sesederhana itu.
Dan akan kutinggalkan hidup seribu tahun, harta yang berlimpah, imunitas terhadap segala penyakit.
Hanya agar aku bisa mencintai dan kau mencintai ku kembali.

Merindu

Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 1:38 AM 0 comments
Tidak tahulah
Tapi ketika sudah jelas
Sesuatu sudah pergi
Dan tidak mungkin kembali lagi
Tapi masih menginginkan hadirnya
Maka apa itu namanya?
Karena setahuku
Yang namanya merindu
Tidak pernah sesakit ini

Saturday, May 3, 2014

How?

Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 11:39 PM 0 comments
How do you guys so sure that I'm in love?
When I myself can't say that i am?
Is it the way that when you ask me why i like him, and i said he is cute, no one agrees?
Or is it the way I've been liking him for an unhealthy long waiting of months?
Or the way I'm still dreaming of his smile though i barely meet him?

How?

Diam

Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 11:34 PM 0 comments
Diammu juga diamku
Tapi diamku berarti tanyamu
Diammu berarti kau menghilang
Diamku berarti aku mati
Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 11:32 PM 0 comments
Jika sedang lelah. Rasanya ingin. Lari. Dari semua ini. Tapi. Mana bisa. Aku lari. Dari kamu

Lembaran

Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 11:26 PM 0 comments
Lembaran-lembaran doa berpijar 
dalam terang bagai lentera

Penulisnya merunduk dalam cahaya remang diantara lilin 
yang berbaris tersusun rapih satu-satu

Dan cahayanya menari dalam remang dinding-dinding 
jingga yang bayangannya meloncat lincah

Kertas tipis putih yang ditulisi hati-hati dengan pena 
nasib dan hati penuh harap

Ditulisi hati-hati dengan sabar pada kertas rapuh 
yang berisi daftar mimpi

Panjang sekali kertas tersebut, sang penulis beranjak 
bangun dan mengulur doa-doa tersebut

Dia menjauh dan berjalan turun pada tangga-tangga 
yang membawa nasib tersebut sesuka hatinya

Naik, turun, sang penulis berputar 
diantara lembaran doa-doa itu sambil berbisik, amin, amin, amin

Disuatu doa harta berlimpah tanpa habis, 
emas-emas berjatuhan bak hujan, lembaran uang menggunung 
dalam berbagai warna yang tertimpa jingga lilin yang bayangannya menari-nari
Amin, amin, amin

Suatu kertas bersinar terang dan perang terhenti, 
kedamaian dunia, dan tiada kelaparan 
sementara senjata-senjata dimusnahkan
Amin, amin, amin

Ini, itu, ini, itu. Lembar-lembar doa yang berpijar sementara
 penulisnya menari mengamini satu-persatu kertas
 yang menyentuhnya lembut, mengiringi putaran dan 
berputarnya kaki-kaki dari satu langkah ke langkah lainnya

Satu kertas saja.

Sang penulis berhenti menari. 
Air mata jatuh. 
Hati hancur.
 Tangan yang tergenggam erat

“Aku ingin dia mencintaiku juga...
 aku ingin dia merasakan yang kurasakan... 
aku ingin bernafas beriringan dengannya...”

Tinta itu luntur membasahi keramik-keramik jingga. 
Air hitam menetes dan kertas tersebut rapuh debunya tertiup angin.

Sang penulis terdiam. 
Sunyi. 
Tak ada amin?

Lalu ia melangkah,
 menari melalui lembar-demi lembar doa sambil berbisik, 
amin, amin, amin


Dan nun jauh disana,
 hati runtuh satu persatu. 
Air mata jatuh. 
Harapan yang rapuh dan tertiup angin. 
Tak ada yang mengamini cinta.
 Sementara sang penulis terus menari dan menari.

Permulaan

Posted by Wahyuni Ajeng Gumandar at 11:11 PM 0 comments
Permulaan adalah saat aku pertama kali melihatmu
Wajah teduhmu, senyuman manismu, 
dan suaramu yang menenangkan
Dari saat itupun hanya satu hal yang ku inginkan
Melihatmu setiap hari dan bahagia
Walau kau ada surga yang sungguh 
gelap dan tak tergapai
Tapi, bagaimanapun itu surga
Tak ada yang lebih indah dari surga

Itulah saat semuanya bermula
 

Bitterness Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea